Mengenal Jujuran di Banjarmasin

  Rustam Efendi      

Pernikahan lazim dikaitkan dengan adat dan budaya setempat, di mana orang yang akan melangsungkan pernikahan, akan mengikuti kebiasaan atau adat istiadat dari calon mempelai pria ataupun calon mempelai wanita. Tak jarang, kebiasaan itu dilaksanakan sesuai suku dari salah satu calon, atau kebiasaan keduanya yang dipakai pada saat pelaksanaan pernikahan tersebut.

Mengenal Jujuran di Banjarmasin
Proses Pengantaran Jujuran (foto by : rudyazharyphotography.blogspot.com)

Di Indonesia, tentunya beragam kebiasaan yang dilaksanakan, mulai dari Aceh sampai ke Papua. Salah satunya adalah suku Banjarmasin, suku asli Kalimantas Selatan. Di Banjar, ada satu adat yang biasa dilaksanakan sebelum pernikahan berlangsung. Lumrah, kita ketahui bagi orang yang akan melaksanakan pernikahan, akan melewati beberapa tahapan, diantaranya lamaran dan bertunangan, pernikahan dan pesta pernikahan (resepsi).

Di Banjar, pada proses lamaran, ada satu kebiasaan yang musti harus dipenuhi oleh mereka yang akan melaksanakan pernikahan. Jadi, bagi pria yang telah siap untuk menikah, ia segera meminta keluarganya untuk meminang sang calon istri, pada prosesi lamaran, pihak perempuan akan menentukan uang jujuran. Jujuran adalah sejumlah uang dan peralatan kamar, yang diserahkan kepada calon mempelai wanita, sebagai bukti sebentar lagi akan dilaksanakannya pernikahan kedua insan.

Besarnya uang jujuran itu beragam, tergantung pada keinginan mempelai wanita dan kesanggupan dari pihak pria. Bisa saja terjadi penolakan, atas uang jujuran yang telah ditetapkan. Penolakan tersebut, bisa saja karena ketidak mampuan seorang pria untuk memenuhinya. Minimal, kalau pun pria itu tidak menolak, mereka akan melakukan negosiasi, bilamana disetujui oleh keluarga calon mempelai wanita, akan ditetapkanlah waktu untuk pengantaran uang ataupun barang yang telah disepakati.

Setelah hari yang ditentukan tiba, pihak mempelai pria akan mengantarkan jujuran yang telah disepakati untuk diterima oleh pihak wanita. Pada saat penerimaan jujuran itulah, kemudian ditetapkan hari dan waktu pelaksanaan ijab kabul dan pesta pernikahan. Biasanya, saat pesta pernikahan dilaksanakan di rumah mempelai wanita terlebih dahulu, barulah dilanjutkan pada hari berikutnya di rumah mempelai pria. Jika tidak ingin melaksanakan pesta pernikahan bagi pihak pria, karena alasan tertentu, pelaksanaan pesta pernikahan hanya dilakukan di rumah mempelai wanita.

Uang jujuran ataupun seperangkat alat untuk di kamar, biasanya digunakan untuk biaya pernikahan dan perlengkapan sang pengantin saat dan setelah menikah nantinya. Jujuran itu tidak memberatkan, tergantung kesepakatan, bahkan besarnya uang jujuran tidak ada patokan pasti, kembali lagi tergantung kepada kesepakatan kedua belah pihak.

Jadi, jujuran itu berbeda dengan mahar ya, mahar itu tergantung kesanggupan pria yang dikeluarkan pada prosesi ijab kabul. Sedangkan jujuran dikeluarkan pada saat sebelum melaksanakan ijab kabul dan pesta pernikahan. Bagi yang menyebut jujuran sebagai mahar itu tidak benar, karena fungsi dan pembayarannya berbeda. 

Demikaianlah informasi mengenai Jujuran ini, semoga menambah wawasan kita mengenai adat dan budaya di Indonesia.

logoblog

Thanks for reading Mengenal Jujuran di Banjarmasin

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar